Kamis, 29 November 2012

MEDIA LITERASI, ESTETIKA , DAN KEBUDAYAAN

Istilah Media Literasi mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya Media Literasi tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian Media Literasi , Mc Cannon mengartikan Media Literasi sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002). Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan Media Literasi sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Secara ringkas penjelasan Media Literasi artinya adalah kepintaran, mampu dengan baik, menggunakan, memahami, menganalisa media baik media televisi, radio, surat kabar, dan film. Kajian Media Literasi terkini menunjukkan adanya perkembangan media seperti video, komputer, dan internet. Kehidupan modern dan perkembangan teknologi canggih membuat manusia dalam kesehariannya selalu diterpa oleh media. Istilah populernya adalah tiada hari tanpa media.

Media Literasi atau melek media adalah suatu istilah yang digunakan sebagai jawaban atas maraknya pandangan masyarakat tentang pengaruh dan dampak yang timbul akibat isi (content) media massa; dimana cenderung negatif dan tidak diharapkan. Sehingga perlu diberikan suatu kemampuan, pengetahuan, kesadaran dan keterampilan secara khusus kepada khalayak sebagai pembaca media cetak, penonton televisi atau pendengar radio.
Misalnya saja, masyarakat sekarang sudah pintar untuk memilih dan menonton tayangan yang menurutnya bermanfaat. Tidak lagi hanya menonton tayangan sinetron yang hanya menyediakan artis-artis yang berparas elok dan tidak memberikan nilai moral dalam sinetron tersebut.
Kebanyakan acara TV sekarang hanya mementingkan rating saja. Jadi mereka tidak begitu memikirkan manfaat apa yang dapat masyarakat dapat ambil dari program TV yang mereka buat. Kalau saja masyarakat belum pintar untuk memilah mana yang baik untuk mereka lihat maka mereka akan terus-terusan saja diracuni oleh tayangan yang tak ada nilai moral yang dapat kita ambil. Belum lagi penampilan artis-artis yang mereka tonton. Kebanyakan tayangan sinteron di Indonesia menggunakan artis yang cantik rada bule-bule gitu dan kalau dia berperan antagonis dia pasti memakai pakaian yang seksi. Itu sangat bertentangan bukan dari kebudayaan kita yang mengajarkan kita untuk berpakaian yang sopan.
Kemampuan akan literasi media sangatlah penting, khususnya pada zaman informasi seperti saat ini atau yang disebut dengan “mediated environment”. Dengan mempelajari literasi media masyarakat menjadi audiens yang aktif. Kedua, masyrakat akan menjadi lebih sadar (aware) dan kritis atas apa yang tersaji dalam media. Ketiga, literasi media akan mengajarkan orang agar mampu menggunakan media sesuai dengan manfaat yang ingin didapatkan. Dan keempat, untuk masa depan generasi yang akan datang agar siap untuk hidup dalam lingkungan media seperti sekarang. Empat hal tersebut cukup menjadi alasan yang kuat mengapa literasi media menjadi penting untuk dipelajari.
Konsep paling mendasar literasi media sebenarnya adalah “membaca” media dengan lebih kritis. Keterampilan atau kemampuan untuk “membaca” media ini tidak dapat muncul begitu saja, tapi melalui latihan yang terus dikembangkan.

Media tidak pernah netral, selalu ada kepentingan, unsur kepemilikan, ideologi institusi, dan tendensi komersial yang terangkum dalam sebuah produk media. Kesadaran seperti ini juga menunjukkan bahwa audiens memiliki otonominya sendiri dan memiliki power yang lebih besar dari media. Dan masyarakat harus memiliki sikap terhadap media sebelum media berbalik menyetir kehidupan masyarakat.
HANDBOOK OF VISUAL COMMUNICATION (Media Literacy, Aesthetic, Cultures) hal 503-504

0 komentar:

Posting Komentar