Minggu, 04 November 2012

PENGARUH DUNIA TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIDANG KEBUDAYAAN


PENGARUH DUNIA TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIDANG KEBUDAYAAN

Dunia teknologi informasi tidak hanya berfokus dalam 1 bidang saja. Tapi itu juga mencakup dalam banyak bidang, misalnya saja dalam bidang pendidikan, politik, kedokteran, hiburan dan termasuk kebudayaan. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), merupakan sebuah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknik untuk memproses dan menyampaikan informasi dengan baik. Hingga kini TIK masih mengalami perubahan yang semakin canggih dan seperti tak ada jenuhnya untuk mengeluarkan terobosan terbaru. Kemajuan Teknologi Informasi memiliki beberapa dampak negatif terhadap berbagai aspek contohnya dalam bidang budaya, seperti perubahan budaya akibat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sekarang memberikan pengaruh tersendiri pada budaya di Indonesia. Kencangnya arus informasi menimbulkan kecenderungan yang menuju pada pudarnya nilai untuk pelestarian budaya.
Sangat disayangkan sekali, karena seiring dengan majunya teknologi informasi kita malah semakin asing dengan budaya sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah.
Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal jika kita dapat mengenali dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, dapat menjadi lahan pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk negara, juga dapat membuat Indonesia makin dikenal oleh negara asing.
Ada hal lain yang menambah pengaruh globalisasi yaitu apalagi kalau bukan dalam masalah bahasa. Sudah lazim di Indonesia untuk memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan Bapak, Ibu, dsb. Tapi sekarang sudah banyak remaja yang makin melupakan adat istiadat tersebut. Ada anak yang memanggil kasar orang tuanya dengan hanya menyebutkan ‘nama orang tuanya saja’.
Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata hinaan dan makian sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion .
Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia juga dengan hadirnya K-Wave yakni gelombang musik Korea yang memperkenalkan masyarakat Indonesia dengan boyband juga girlband Korea. Terutama dalam hal berpakaian untuk remaja Indonesia yang sekarang mengikuti trend girlband Korea yang hanya menggunakan celana pendek atau biasa disebut dengan hot pants, yang pastinya mengumbar aurat yang semestinya di tutup.
Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` dampak untuk kebudayaan. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.
Oleh karena itu Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi  menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
Kita sebagai generasi muda harusnya melestarikan dan mencintai budaya Indonesia itu sendiri. Ada orang luar negeri yang menjadi WNI ‘ngoyo-ngoyo’ untuk memperkenalkan budaya Indonesia di kancah luar negeri. Kenapa kita sebagai masyarakat asli Indonesia tidak? Malah kita mengagung-agungkan kebudayaan negara lain. Jangan biarkan kemajuan teknologi menjadi ancaman untuk kehancuran budaya Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar